KEDIRI — Di balik sabun, kosmetik, margarin, hingga bahan kimia industri, sering kali terdapat satu bahan baku yang sama: minyak kelapa. Sebelum menjadi produk jadi, minyak ini diperdagangkan dalam bentuk mentah yang dikenal sebagai Crude Coconut Oil, disingkat CNO atau CCNO.
Bagaimana CNO dibuat?
CNO diperoleh dengan mengepres kopra, yaitu daging kelapa yang telah dikeringkan. Kopra dimasukkan ke mesin pengepres (expeller) yang menekan daging kelapa hingga minyaknya keluar. Minyak yang dihasilkan kemudian disaring untuk mengurangi kotoran sebelum disimpan di tangki.
Hasil sampingnya adalah bungkil kelapa (coconut expeller/meal) yang kaya protein dan banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak.
Karakteristik khas minyak kelapa
Minyak kelapa termasuk golongan minyak laurat karena kandungan asam lauratnya tinggi. Karakter inilah yang membuatnya dicari industri oleokimia untuk memproduksi asam lemak, fatty alcohol, dan bahan aktif sabun serta deterjen.
Satu hal yang sering mengejutkan pembeli baru: minyak kelapa membeku pada suhu ruang yang sejuk, di bawah sekitar 24°C. Karena itu, pengiriman CNO jarak jauh umumnya memerlukan fasilitas pemanas saat pembongkaran.
Parameter mutu yang diperhatikan
Saat membeli CNO, pembeli biasanya menyepakati beberapa parameter utama. Spesifikasi komersial CNO dari CV ECHOTECH antara lain:
- Asam lemak bebas (FFA): maksimum 5,0%
- Kadar air dan kotoran: maksimum 1,0%
- Nilai iodin: 7,5 – 11,0
- Warna: 5,5 Yellow / 0,6 Red
FFA menjadi parameter yang paling sering dibahas karena berkaitan langsung dengan kesegaran bahan baku dan biaya pemurnian di refinery.
Siapa pengguna CNO?
Pengguna utama CNO adalah refinery yang memurnikannya menjadi minyak kelapa RBD (refined, bleached, deodorized), serta industri oleokimia. Setelah dimurnikan, minyak kelapa juga dapat digunakan di industri pangan sesuai standar yang berlaku.
Dengan permintaan global yang stabil, CNO tetap menjadi salah satu komoditas kelapa paling strategis bagi Indonesia.




