KEDIRI — Bagi pabrik pengepresan minyak (oil mill), kopra adalah bahan baku utama sekaligus komponen biaya terbesar. Selisih kecil pada mutu kopra dapat berdampak besar pada rendemen minyak dan kualitas CNO yang dihasilkan. Karena itu, pembeli kopra giling (milling copra) perlu memahami parameter mutu yang tercantum dalam kontrak.
1. Kadar minyak
Kadar minyak menunjukkan berapa banyak minyak yang dapat diperoleh dari kopra. Semakin tinggi, semakin besar rendemen. Spesifikasi kopra giling CV ECHOTECH menetapkan kadar minyak minimum 63%.
2. Kadar air
Kadar air yang ideal berada di kisaran 6% – 10%. Kopra yang terlalu basah mudah berjamur dan memicu kenaikan FFA, sedangkan kopra yang terlalu kering dapat menyusutkan berat dan rapuh saat penanganan.
3. Asam lemak bebas (FFA)
FFA kopra menentukan FFA minyak yang dihasilkan. Batas maksimum 3% membantu menjaga agar CNO hasil pengepresan tetap memenuhi spesifikasi yang diminta refinery.
4. Jamur atau kapang
Jamur bukan hanya masalah tampilan. Pertumbuhan kapang dapat menurunkan mutu minyak dan meningkatkan risiko kontaminasi. Batas jamur maksimum 5% menjadi salah satu kriteria penerimaan.
5. Asal produk dan ketertelusuran
Asal kopra memengaruhi karakter bahan baku. Pencatatan asal, pemasok, dan nomor lot memudahkan penelusuran apabila terjadi perbedaan mutu di kemudian hari.
Bagaimana pemeriksaan dilakukan?
Di CV ECHOTECH, setiap kiriman kopra melalui tujuh tahap penerimaan: identifikasi pemasok dan asal, pencatatan jenis dan kuantitas, pemeriksaan kondisi fisik, pengambilan sampel dan uji parameter, penetapan status penerimaan, pemisahan bahan yang tidak sesuai, hingga pencatatan hasil dan penyimpanan.
Pembeli juga dapat menyepakati metode pengambilan sampel dan pengujian tambahan sebelum transaksi. Kejelasan parameter sejak awal adalah kunci agar kedua belah pihak tidak dirugikan.




